Logo of New Apostolic Church


Gereja Kerasulan Baru
Indonesia

150 Years New Apostolic Church - One Faith - One Goal
Header separator

Melayani dan Memimpin

Mukadimah

Dengan Sapta Marga ini Gereja Kerasulan Baru ingin menciptakan suatu dasar keseragaman di dalam melayani dan memimpin di dalam Gereja Kerasulan Baru. Sapta Marga ini dimaksud sebagai pegangan bagi engkau semua dan membantu pribadi-pribadi, melalui kasih kristiani terhadap sesama manusia, saling pengertian dan penghargaan, untuk meningkatkan persekutuan dan kemanunggalan gereja. Memimpin di dalam Gereja Kerasulan Baru tidak pernah merupakan sesuatu yang otomatis, melainkan hendaknya berfungsi untuk membantu semua orang percaya agar mencapai tujuan kepercayaan, yaitu untuk pada kebangkitan pertama terbilang sebagai pengantin perempuan Kristus dan mencapai persekutuan yang kekal dengan Allah. Di dalam hal ini dasar-dasar ajaran Yesus Kristus adalah pedoman mutlak.

Melayani dan memimpin haruslah ditentukan oleh kemenurutan terhadap yang Ilahi, doa-doa yang khusyuk dan tindak-tanduk di dalam rasa takut akan Allah. Oleh hal ini terbentuklah kerjasama yang penuh kepercayaan dan pengandalan. Pimpinan Gereja sangat menharapkan dan menilaikan, agar cara melayani dan memimpin yang sedemikian diterapkan di mana-mana


Pengantar

Injil Yesus Kristus memiliki jangkauan yang tidak terpengaruh oleh waktu. Meskipun demikian pimpinan Gereja menyelidiki dengan seksama, apakah cara melayani dan memimpin masih sesuai dengan tuntunan zaman. Pimpinan Gereja sadar akan tanggung jawab, bahwa apa yang terbukti baik harus dipertahankan.

Alkitab

Alkitab

Hubungan yang berubah-ubah di antara banyak orang terhadap pekerjaan dan pimpinan pada masa sekarang menuntut lebih banyak kemampuan untuk menghayati, kesediaan untuk berdialog dan kemauan untuk bekerja sama.

Melalui sumbangan pikiran dan perbuatan yang sadar akan tanggung jawab, bakat-bakat dan kemampuan-kemampuan setiap individu berkembang untuk kepentingan dan kegunaan Gereja dan untuk kebaikannya sendiri.

Melayani dan memimpin di dalam Gereja Kerasulan Baru akan dijelaskan dalam judul-judul berikut ini :

Apabila selanjutnya kita membicarakan tentang mereka yang dipercayai untuk memimpin, maka yang dimaksud adalah: Rasul Kepala, Rasul Distrik, Rasul, Uskup, Jawatan Distrik, Penghantar Sidang, Saudara-saudari sekepercayaan yang di tugaskan, misalnya ketua kelompok kerja, kepanitiaan.


Syarat-syarat untuk mereka yang dipercayai untuk memimpin

Untuk memenuhi tugas-tugas mereka yang dipercayai untuk memimpin diperlukan sifat-sifat rohani, seperti :

  • Kepercayaan yang dalam
  • Rasa takut akan Allah
  • Kasih kepada sesama manusia

Tetapi juga sifat-sifat kepemimpinan, seperti :

  • Keterbukaan
  • Kejujuran
  • Dapat menyimpan rahasia
  • Kemampuan berkomunikasi dan menerima kritik
  • Percaya diri
  • Kesediaan berjuang dan berkurban
  • Kemampuan menanggung dan memikul

Mereka yang dipercayai untuk memimpin, hendaknya senantiasa siap untuk menguji gaya kepemimpinan mereka sendiri dan untuk terus mengembangkan kemampuanya untuk memimpin. Sesuai dengan pengajaran Kristiani, mereka menghormati pandangan-pandangan agama semua orang. Mereka tidak merendahkan kebudayaan, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang lain. Sebaliknya mereka menjumpai semua manusia dengan dengan penghormatan yang wajar. Mereka tidak menuntut para pemangku Jawatan dan saudara-saudari sekepercayaan lebih banyak daripada apa yang dapat mereka lakukan sendiri.

Kredibilitas (= Kepatutan untuk dipercaya ), mereka yang dipercayai untuk memimpin hanya ada, apabila mereka mereka dapat menepati janji-janjinya dan perbuatan-perbuatannya dapat diteladani dan keputusan-keputusannya memiliki dasar yang kuat. Firman dari Yakobus 1:22 adalah pegangan yang berharga:

Yakobus 1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja ; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri

kembali ke atas


Otoritas (Kuasa dan Wewenang)

Yesus Kristus adalah kepala Gereja. Rasul kepala adalah kepala semua Rasul. Ia memimpin Gereja bersama para Rasul. Yesus Kristus mengatakan:

Yohanes 13:16 Salinan Alkitab Jerman Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih besar dari pada tuanya dan seorang Rasul dari pada Dia yang mengutusnya

Haruslah dibedakan antara otoritas keluar dan otoritas ke dalam. Otoritas keluar adalah pelaksanaan kekuasaan sesuai dengan kedudukan seseorang. Sebaliknya otoritas ke dalam terutama ditandai dengan:

  • Menghayati dan mempraktekan sendiri ajaran-ajaran dan perintah-perintah.
  • Kemampuan untuk menyakinkan melalui sikap yang patut dipercaya dan juga melalui pemberian ajaran-ajaran dan perintah-perintah yang beralasan.
  • Kompentensi rohani, jasmani dan keahlian bekerja.
  • Kejujuran dan dapat diandalkan.

kembali ke atas


Gaya Kemimpinan

Memimpin berarti, memiliki tujuan dan menunjukkan jalan kepada seseorang yang berjalan bersamanya. Orang yang dipercayai untuk memimpin harus sadar dalam setiap situasi, bahwa tindakan-tindakannya akan menjadi teladan bagi para pemangku Jawatan dan saudara-saudari sekepercayaan yang dipercayakan kepadanya. Kepentingan Gereja secara keseluruhan adalah yang terutama. Suatu jawatan atau tugas tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Mereka yang dipercaya untuk memimpin harus bebas dari tindakan-tindakan yang ambisius, dalam hal ini firman Sang Putra Allah menjadi pedoman:

Yohanes 13:15 Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah kuperbuat kepadamu

Mereka yang dipercayai untuk memimpin hanya dapat mengambil keputusan – keputusan yang berguna bagi Gereja dan orang-orang yang dipercayakan, apabila mereka memiliki kejelasan yang sebenar-benarnya perihal masalah yang yang dipersoalkan. Mereka yang dipercayai untuk memimpin juga harus sadar, bahwa para pemangku Jawatan dan saudara-saudari sekepercayaan melayani dengan sukarela. Oleh karena itu, pada waktu memberikan tugas-tugas, mereka menghindari segala sesuatu yang dapat menjadikan beban yang tidak tertanggungkan. Yang juga menolong tugas-tugas kepemimpinan adalah :

  • Doa yang khusyuk dan perhatian yang seksama akan tanda-tanda Ilahi sebelum pemilihan Pemangku Jawatan dan orang-orang yang akan diserahi suatu tugas
  • Penyerahan (pendelegasian) tanggung jawab
  • Pembinaan rohani dan keahlian para Pemangku Jawatan atau saudara-saudari sekepercayaan yang ditugaskan.
  • Mendorong untuk turut berpikir dan bertindak konstruktif.
  • Memberikan, mendasari dan menerangkan tugas-tugas, meneruskan lagi secara menyakinkan, dan mengawasi pelaksanaannya.
  • Memberi keleluasaan bertindak, yang diperlukan untuk penyelesaian tugas-tugas.

Pergaulan satu sama lain ditandai oleh penghargaan dan kasih terhadap sesama manusia, bahkan juga, apabila kesalahan telah dilakukan dan diakui.

Bila perlu, pujian dan teguran yang wajar hendaknya diberikan, yang hendaknya disampaikan tatkala masalahnya masih hangat. Pembicaraan-pembicaraan seperti itu juga bermanfaat untuk menciptakan keyakinan atas tugas-tugas yang harus diselaikan dan meningkatkan suatu kerjasama yang penuh pengandalan. Mereka yang dipercayai untuk memimpin hendaknya terbuka terhadap saran-saran, namun keputusan akhir tetap ada pada mereka.

Mereka yang dipercayai untuk memimpin juga wajib untuk menjelaskan kepentingan-kepentingan Gereja, bahkan apabila hal ini kadang-kadang juga memaksa pemimpin untuk menanggalkan tujuan-tujuan pribadinya yang tidak terwujud.

Kerjasama yang harmonis dari cara sedemikian itu menciptakan pengandalan dan penghargaan dan menimbulkan rasa "kebersamaan", yang menimbulkan setiap individu merasa nyaman didalam persekutuan.

kembali ke atas


Delegasi

Agar mereka yang dipercayai untuk memimpin dapat memusatkan diri dengan tugas-tugas utama, maka perlu pendelegasian sebanyak mungkin tugas-tugas.

Maka hendaknya menguji, sejauh mana tugas-tugas perawatan jiwa tertentu dapat didelegasikan kepada para pemangku Jawatan yang tepat di dalam distrik atau sidang jemaat. Bagian yang sangat diperlukan didalam pendelegasian adalah pemberian hak-hak untuk mengambil keputusan yang diperlukan untuk penyelesaian tugas-tugas yang diberikan.

Untuk megerjakan tugas-tugas yang besar jumlahnya dan kompleks, dibentuklah kelompok-kelompok kerja. Suatu kelompok hanya dapat berhasil, jika diberikan dukungan yang diperlukan oleh pemimpinya.

kembali ke atas


Komunikasi

Adalah keinginan setiap individu untuk memahami maksud dan tujuan, latar belakang dan kaitan-kaitannya. Di samping itu setiap orang perlu menyampaikan masalah-masalahnya. Ini berhasil dengan sangat baik, apabila satu dengan yang lain berkomunikasi. Kurangnya dialog-dialog yang terbuka dan pertemuan-pertemuan yang teratur, dapat menimbulkan ketidakpastian dan kesalahpahaman.

Di dalam suatu persekutuan yang terbuka dibicarakan bersama secara terus terang perbedaan-perbedaan pendapat yang ada. Adalah berguna untuk suatu kemanunggalan yang sejati, apabila semua keputusan sedapat mungkin diterangkan dengan jelas. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dan pembicaraan-pembicaraan berikutnya hendaknya tidak dianggap sebagai tanda perpecahan, melainkan sebagai usaha untuk mencapai kemanunggalan.

Mereka yang dipercayai untuk memimpin hendaknya menginformasikan hal-hal yang perlu. Mereka juga harus berusaha, agar mereka menerima kilas balik yang penting dari pelaksanaan dan penerapan sebagai akibat tindakan yang telah dilakukan.

Kemanunggalan yang sejati hanya dapat dicapai, apabila:

  • Pertolongan Allah diperjuangkan di dalam doa.
  • Semua yang berkepentingan saling menjumpai tanpa prasangka dan tanpa kesombongan.
  • Ada kesediaan untuk bekerja sama.
  • Semua yang berkepentingan saling mendengarkan untuk mencapai pengertian yang lebih baik mengenai pendapat orang lain.
  • Informasi-informasi yang tepat diterima pada waktu dan tempat yang tepat pula.
  • Keterbukaan rohani ditunjukan terhadap pendapat-pendapat lain.
  • Pendapat pribadi tidak dibela mati-matian.
  • Ada komunikasi yang bebas dari rasa takut.

Demi kemanunggalan, keputusan-keputusan yang telah diambil, perintah-perintah yang telah dikeluarkan dan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan tidak boleh ditafsirkan oleh orang perorang sesuka hatinya.

kembali ke atas


Mengatasi Konflik

Kebersamaan manusiawi ditandai oleh dukungan dan persahabatan yang timbal balik, tetapi juga oleh pandangan-pandangan yang berbeda-beda, kepentingan-kepentingan yang berlawanan dan oleh prasangka-prasangka.

Pembicaraan-pembicaraan yang teratur menciptakan lebih banyak saling pengertian dan mencegah timbulnya konflik-konflik yang tidak perlu.

Dengan wewenang untuk mengambil keputusan yang tegas dan mengambil keputusan sendiri yang berkepentingan, banyak konflik dapat dihindari sejak awal.

Dengan demikian kerjasama di antara saudara-saudari sekepercayaan tidak bercirikan oleh tidak adanya konflik-konflik, melainkan oleh cara bagaimana konflik-konflik itu dipecahkan. Konflik-konflik juga memberi kesempatan kepada semua orang yang berkepentingan untuk menemukan pemecahan-pemecahan yang baru dan yang lebih baik; Kerendahan hati, kasih dan penghormatan satu sama lain memudahkan hal ini. Untuk ini hendaknya dipisahkan antara kepribadian orang itu dan persoalan yang ada. Seringkali dilakukan dengan maksud baik, meskipun demikian dilakukkan kesalahan tanpa disadari. Yang penting adalah, untuk mencari sebab-sebabnya dan tidak mencari siapa yang salah. Akan tetapi, dalam kasus-kasus, di mana persoalan-persoalan berasal dari kurangnya kemampuan pribadi para Pemangku Jawatan atau orang yang ditugaskan, orang harus bersedia untuk membicarakan hal ini dan jika perlu menugaskan kembali personil yang lain.

Pembicaraan-pembicaraan yang perlu hendaknya dilaksanakan dengan mengindahkan martabat seseorang. Apabila konflik-konflik yang ada tidak terpecahkan, setiap orang dapat datang dengan penuh pengandalan kepada mereka yang dipercayai untuk memimpin yang lebih tinggi.

Kolose 3:12-14 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan

kembali ke atas